Memperkokoh Rasa Toleransi dalam Kesatuan

Jadikan momen ramadan sebagai pengokohan atas rasa toleransi yang mulai luntur, karena sejatinya kita hidup untuk saling mendukung dan menghargai, bukan memusuhi

Ramadan menjadi momentum penting dalam aplikasi rasa toleransi antar umat beragama sesuai dengan tujuan negara yakni persatuan Indonesia. Tanpa adanya toleransi, kesatuan sangatlah mustahil mengingat Indonesia terdiri dari berbagai macam suku, agama, budaya, dan bahasa.

Mengapa ramadan? Islam sebagai agama mayoritas di Indonesia tentunya memiliki dampak paling besar pada setiap kegiatan keagamaannya. Untuk itu pada momentum kali ini ramadan harusnya menjadi berkah tersendiri untuk memperkokoh rasa toleransi bukannya menimbulkan perpecahan di sana-sini.

Menurut bahasa toleransi berasal dari kata tolerance (dalam bahasa Inggris) yang berarti sikap membiarkan, mengakui dan menghormati keyakinan orang lain tanpa memerlukan persetujuan. Dalam bahasa Arab yakni tasamuh, berarti mengizinkan, saling memudahkan.

Toleransi menurut istilah yakni menghargai, membolehkan, membiarkan pendirian pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan dan sebagainya.

Dalam menanggapi isu yang beredar pada masyarakat luas hari ini tentang pro kontra terkait spanduk yang bertuliskan “Hormati yang tidak berpuasa” tentunya menjadi bahasan tersendiri. Komentar negatifnetizen yang membanjiri media sosial tentunya menjadi bumbu-bumbu perpecahan yang harus dihindari. Hal ini terkait dengan kebebasan berpendapat yang sudah menjadi hak setiap masyarakat Indonesia.

Jika ditelusuri lebih dalam, terlepas dari spekulasi yang ada, hanya pada era saat ini masyarakat seakan ramai-ramai membahas secara dalam mengenai toleransi dalam berpuasa. Padahal selama ini hal-hal tersebut tidak terjadi pada tahun-tahun sebelumnya. Ini mengindikasikan bahwa isu agama dan atributnya seperti menjadi bahan dasar empuk untuk mendorong kepada konflik hingga menimbulkan perpecahan.

Mari saatnya sadar bahwa perdebatan yang ada hanya menambah daftar hitam masyarakat atas ketidakmandirian bangsa sebagai bagian dari masyarakat heterogen pada negara kesatuan ini. Hindari perdebatan dan saling sindir guna meminimalisir pertikaian atas dasar apapun. Mari mengingat bahwa Indonesia dibangun atas jerih payah, keringat dan tumpah darah. Jadikan momen ramadan sebagai pengokohan atas rasa toleransi yang mulai luntur, karena sejatinya kita hidup untuk saling mendukung dan menghargai, bukan memusuhi. (srr)