JADI, BHINNEKA TUNGGAL IKA ADALAH…


Warning: Invalid argument supplied for foreach() in /home/gerakandutadamai/public_html/wp-content/plugins/post-grid/grid-items/variables.php on line 87

BHINNEKA TUNGGAL IKA ADALAH


Oleh: Pertiwi Yuliana

Hai, saya Manusia. Salam kenal. Saya hidup di sebuah Negara yang memiliki sistem pemerintahan yang demokratis, katanya. Negara saya begitu kaya, tapi orang-orang seperti saya biasanya terlalu nikmat dengan individualismenya sampai melupa bahwa kekayaan ini bisa dipergunakan lebih dan lebih lagi untuk kemakmuran dengan skala yang lebih besar.

Lupa.

Teramat banyak orang-orang yang lupa. Lupa bahwa keberagaman di Negara ini begitu sulit untuk ditepis. Bermula dari suku, agama, ras, sampai pada status sosial. Teramat banyak orang-orang yang lupa, bahwa kita semua adalah saudara.

Siapa saya? Saya Manusia, hanya seseorang yang begitu sakit hatinya ketika ada yang menyuarakan perang antarsaudara. Saya seringkali menulis—sebagai salah satu bentuk perjuangan saya di luar tindakan nyata—untuk mencoba membuka mata para pelupa. Kita sama, walaupun ada faktor-faktor nyata yang menampakkan bahwa kita berbeda.

Saya pernah datang ke sebuah lembaga bantuan hukum di kota saya atas sebuah undangan yang saya terima. Kami—kumpulan manusia dari kaum minoritas—banyak berbincang di sana mengenai segala seluk-beluk yang carut-marut di Negara. Di sana, salah satunya adalah seorang anak dari mantan orang nomor satu di Negara. Beliau bersuara, mengenai beda yang semakin menyesak.

Katanya lagi, Negara ini didominasi oleh penganut satu agama yang cukup besar di dunia. Yang saya tahu—sebagai salah satu penganut agama yang sama—kami diajarkan untuk selalu berprasangka baik pada apa pun dan siapa pun. Entah, tetapi agaknya miris hati saya sebagai manusia menyaksikan banyak perang yang mengatasnamakan agama. Perlukah agama dibela? Justru kita sebagai manusia yang mesti berlindung padanya, kan? Jadi, siapa yang butuh belaan?

Saya bukan siapa-siapa. Saya hanya Manusia. Manusia yang kecil di antara sekelompok manusia yang mengagungkan dirinya sebagai makhluk beragama, tetapi melakukan tindakan yang tak pantas disebut patuh pada syariat yang “katanya” diyakininya. Saya menyaksikan dan tertawa kecil di sana. Menghujat dan menghakimi mereka yang berbeda. Sungguh, ada pertanyaan besar dalam diri saya: apakah pantas manusia menghakimi manusia lain sebelum Tuhan Yang Maha Segalanya?

Baiklah, saya Manusia dari kaum minoritas, masih meraba di mana letak kebenaran atas apa yang nyatanya ada di depan mata. Terakhir, sebuah kitab adalah panduan. Namun yang harus kita semua pahami adalah kita harus benar-benar memahami sebelum asal menerapkan.